Jumat, 22 Juni 2012

ROMO HERU COKRO SAMONO

 
Romo M. Semono Sastrohadidjojo / ( Romo Herucokro Semono ) 1900 - 1981.
Sebelum tahun 1900, seorang isteri “padhemi” (isteri resmi), dibuang dalam arti diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa. Itu karena desakan seorang “selir” yang sangat dicintai. Hal demikian, tidak jarang terjadi pada jaman itu. Isteri “priyagung” itu bernama Dewi Nawangwulan. Kepergiannya, disertai seorang dayang (emban), bernama Rantamsari.
Dewi Nawangwulan, dibuang (“dhikendangake”), dan diberikan kepada Ki Kasandhikromo, yang sering juga disebut Ki Kasan Kesambi, seorang tokoh spiritual pada jamannya, yang berdiam di desa Kalinongko, Gunung Damar, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Saat dibuang, Dewi Nawangwulan dalam keadaan mengandung. Lahir bayi yang diberi nama Semono, namun ibunya, Dewi Nawangwulan wafat. Tidak lama kemudian disusul Rantamsari, dayangnya juga meninggal dunia.
Keduanya dimakamkan di puncak Gunung Damar Purworejo.
Ki Kasandhikromo, tidak pernah mau menganggap, apalagi memperlakukan Dewi Nawangwulan sebagai isterinya. Tetap dianggap dan dia perlakukan sebagai “ratu” -nya . Demikian pula isterinya, Nyi Kasandhikromo. Semono dipelihara dan dibesarkan Ki Kasandhikromo. Di sekolahkan Sekolah Ongko Loro (SD yang 5 tahun tamat untuk pribumi). Semono yang lahir tahun 1900, harinya Jumat Pahing. Tidak ada catatan resmi tanggal dan bulannya. Hal biasa pada jaman itu. Semono, semasa sekolah, setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, membolos. Bukan karena malas atau nakal, tetapi karena malu.
Pada saat matahari tepat di atas, saat semua orang tidak ada bayangannya. Semono bayangannya 12. Karena selalu jadi tontonan teman-temannya, jadi malu. Maka lebih baik membolos. Tamat SD itu, langsung diangkat jadi Guru Bantu. Suatu hari, pemuda Semono yang saat itu berumur 14 tahun (sudah dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa pada jaman itu), disuruh Nyi Kasan, mengambilkan minyak, di dalam salah satu bilik rumah mereka. Ternyata, di dalam bilik itu, tertidur lelap seorang gadis kemenakan Nyi Kasan. Dalam kelelapan tidurnya, kain yang dipakai tersingkap, jadi tubuhnya kelihatan terbuka. Pemuda Semono, melihat hal itu, “Mengkorok” (Berdiri bulu bulu di tubuhnya).
Semono lalu merenung. Mempertanyakan, apa sebenarnya yang menggerakkan bulu bulu tubuhnya itu?.
Renungan demi renungan, tidak menemukan jawab. Akhirnya Semono memutuskan, minta ijin Ki Kasan untuk pergi bertapa.

Semono yang berusia 14 tahun itu, bertapa di tepi laut Selatan, di Cilacap. Bekasnya (petilasannya) masih ada sampai saat buku ini ditulis.
Berupa dua rumpun bambu, di dalam kompleks Pertamina. Pertamina, sekalipun sudah berusaha dengan berbagai cara, tidak bisa membongkar kedua rumpun bambu itu.

Semono bertapa selama 3 tahun (1914 - 1917). Hasilnya mendapat “Cangkok Wijoyo Kusumo”. Berbentuk seperti bunga kering, berwarna coklat kehitaman. Kalau dimasukkan air, akan mengembang sebesar tempatnya.

Semono kecewa, karena bukan itu yang dicari. Beliau mendapat “wangsit” (ilham), untuk melanjutkan laku sampai tahun kembar 5, dan di timur nantinya akan dia temukan apa yang dia cari.
Baju yang dikenakan Semono selama 3 tahun bertapa, hancur. Dengan hanya bercawat dedaunan, Semono pulang dengan cara jalan malam. Jadi siang hari sembunyi dan malam harinya jalan, karena takut akan malu kalau bertemu orang.
Sampai di rumah, bukannya dirayakan, tetapi malah sudah disediakan lubang (“luweng”), lalu pemuda Semono oleh Ki Kasan, ditanam (“dhipendem”), selama 40 hari 40 malam. hanya diberi batang gelagah untuk bernafas. Dan setiap usai menanak nasi, Nyi Kasan mengepulkan asap nasi itu ke dalam lubang gelagah.

Selanjutnya, Semono sambil menjadi Marsose (sekarang marinir), berkelana, tetap menjalani laku. Kalau siang dinas, malamnya berendam di laut, menjala. Tidak pernah dapat ikan. Itu dilakukannya sampai tahun 1955.

Tanggal 13 malem 14 November 1955, kebetulan jatuh malem Senen pahing, pukul 18.05, banyak orang di Perak Surabaya, terkejut, menyaksikan rumah Letnan KKO ( sekarang Letnan Satu Marinir), terbakar. Tetapi setelah didekati , ternyata bukan api, melainkan cahaya. Bahkan ada kereta keemasan (kreto kencono) di langit, yang turun masuk ke rumah Letnan Semono). Di Jalan Perak Barat No. 93 Surabaya.

Peristiwa itulah yang dikenal sebagai mijilnya Romo Herucokro Semono.
Pernyataan beliau saat Mijil, menyatakan bahwa “Ingsun” Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar. “Ingsun” (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia, micro cosmos), dan hendak menggelarkan dunia baru (micro cosmos baru).
Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak Hidup, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi abdi-nya Sang Hidup.

Mulai saat itu, Romo Herucokro Semono memberikan siapapun yang menghendaki (tidak ada paksaan, tidak menakut-nakuti dengan cara dan jalan apapun), yang ingin Hidup bahagia (Tentrem), agar bisa mencapai “Kasampurnan Jati” (moksha) pada saatnya.

Romo Herucokro Semono, selanjutnya memberikan Laku Kasampurnan ini, sesudah dinas. Berlangsung sampai tahun 1960. Beliau menjalani masa pensiun sebagai Kapten Marinir.
Beliau lalu pulang ke Purworejo dan berdiam di Kalinongko dan Sejiwan, Loano, Purworejo (2 rumah kediaman).
Setiap hari, beliau menerima kedatangan rata rata 500 orang lebih.
Semua orang, pada waktu makan, diberi makan dan yang menginap, dengan bebas mencari tempat untuk tidur, di rumah beliau.

Tentunya berbagai keperluan orang yang datang. Mulai dari meminta pengobatan penyakit yang dokter sudah tidak sanggup mengobati, dengan seketika sembuh, memohon restu untuk sesuatu, dan lain-lain. Tetapi tidak sedikit yang datang untuk memohon bisa mengikuti Laku Kasampurnan (disebut mohon diperkenankan menjadi Putro).

Berdatangan orang dari berbagai penjuru dunia, melalui berbagai sebab (jalaran), yang akhirnya menjadi Putro.
Selama 25 tahun lebih (13 malem 14 November 1955 s/d 3 Maret 1981), Romo Semono melayani pagi, siang, sore, malam, dini hari, siapapun yang datang .
Semua yang datang, diperlakukan 100% sama. Beliau tidak pernah memandang orang dari perbedaan apapun. Derajat-pangkat, kekayaan kedudukan sosial, suku, bangsa, semua diperlakukan 100% sama.

Kalau beliau sedang memberikan petuah (“wulang-wuruk”), setiap orang mendengar menurut bahasanya sendiri sendiri. Yang orang Jerman mendengar beliau berbicara bahasa Jerman, yang orang Inggris mendengar beliau berbahasa Inggris, sedang penulis mendengar beliau berbahasa Jawa.

Romo Semono, setiap harinya, makan dua kali. Tetapi tiap kali makan, hanya satu sendok. Tidurnya, hampir tidak pernah. Hampir tidak pernah mandi, tetapi selain tidak berbau badan beliau, juga tidak ada daki (kotoran) di kulit beliau. Tubuh tetap sehat, gagah, tinggi besar.

Hal hal luar biasa, atau mujijat yang beliau tunjukkan, kalau ditulis semua akan menjadi satu buku tersendiri.

Beberapa contoh saja, misalnya sekitar tahun 1960, beliau naik sepeda motor militer, di atas laut Jawa, menyeberang ke Madura. Kalau mengemudikan mobil, tangan dan kaki beliau dilepas, dan mobil dikomando dengan ucapan. Beberapa kali orang menyaksikan beliau menghidupkan orang, yang telah dinyatakan mati oleh dokter, dan siap dikubur. Beliau sering berada di beberapa tempat pada saat yang sama, dan di tiap tempat beliau makan minum seperti biasa.

Setiap kali, sekalipun dihadapan beliau menghadap ratusan orang, beliau bercerita. Dan setelah selesai bercerita, ternyata semua pertanyaan dan persoalan yang ada di benak yang hadir, sudah terjawab semua.

Romo Semono wafat tanggal 3 Maret 1981, dan dimakamkan di Kalinongko, Loano, Purworejo. Romo Semono tidak dikaruniai anak. Tetapi meninggalkan ratusan ribu, mungkin jutaan Putro, yang tersebar di mana mana. Dan peninggalan beliau yang paling berharga adalah Sarana sarana Gaib, bagi mereka yang ingin Hidup bahagia (Tentrem), agar bisa menjalani dan mencapai “Kasampurnan Jati” pada saatnya masing masing.
Tinggalan beliau yang terakhir inilah yang sampai sekarang, dipelihara (“dhipepetri”) dan dilestarikan oleh Putro-putronya. Dilestarikan, dalam arti tetap dihayati dan diamalkan dan diberikan kepada siapa saja yang menghendaki, tanpa memandang perbedaan apapun yang ada pada manusianya. Jadi, sifatnya universal.

ROMO SEMONO disimbolkan dengan gambar Bapak Romo Heru Cokro atau Bapak M. Semono Sastrohadijojo ( 1900 - 1981 ) dalam kostum pakaian adat Jawa Tengah yang sedang mijil? Ajaran Manungal Panca Ningrat atau ajaran Manunggaling Kawulo Gusti adalah ajaran asli Tanah Jawa dan dikembangkan oleh Beliau sendiri Bapak Heru Cokro, sehingga kemudian menemukan ajaran-ajaran Panca Gaib yang meliputi :

1. Kunci
2. Asmo
3. Mijil
4. Singkir
5. Paweling

Beliaulah Bapak Heru Cokro yang pertama kali menemukan dan memijilkan kekuatan mikrokosmos menyatu dengan kekuatan makrokosmos dan Beliaulah yang pertama kali dapat memunculkan kekuatan ROMO SEMONO dalam pengertian sangat luas dan luar biasa dan ini adalah merupakan suatu prestasi instan dari ajaran spiritual budaya asli Bangsa Indonesia dalam abad modern ini. Dimana Beliau dapat memunculkan kekuatan ROMO yang ada didalam tubuh Beliau dan menyatu dengan kekuatan SEMONO.

Pada saat Beliau Mijil, Roh Suci Beliau menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa atau SEMONO. Sebagai manusia yang masih hidup, ajaran ini terkenal pada zaman dulu kala, para leluhur kita menyebutnya dengan ajaran moksartham jagadhita ya ca iti dharma, dan oleh karena itu gambar Beliau disimboliskan sebagai penuntun Putra-Putri ROMO yang mengikuti ajaran Beliau agar dapat mencapai tingkatan spiritual yang dimaksud tersebut diatas, juga sebagai penuntun dan sekaligus sebagai pelindung spiritual menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa.

Romo Rogo adalah sebutan untuk Bapak M. Semono Sastrohadijojo ( 1900 - 1981 ). Beliaulah yang pertama kali menemukan dan mengembangkan ajaran Panca Gaib sehingga bisa sampai kepada kita semua.

1. "K U N C I"

“ Kunci iku dhudhu unine, dhudu unen-unene, nanging kang mahanani uni” (Kunci itu bukan bunyinya, bukan kata-katanya, tetapi yang menyebabkan adanya bunyi).

Dalam menjalani Laku selama 41 tahun, Romo Semono menghabiskan waktu 25 tahun hanya untuk melengkapkan “Kunci” saja.
Tiap saat beliau hanya dapat satu huruf. Beberapa saat lagi, baru satu huruf lagi. 25 tahun baru huruf huruf yang beliau dapat itu lengkap, menjadi “Kunci”.

Kata-kata “Kunci” :
Gusti ingkang Moho Suci,
Kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti ingkang Moho Suci;
Sirolah, Dhatolah, Sipatolah;
Kulo sejatine satriyo (untuk pria)/wanito (untuk wanita),
nyuwun wicaksono, nyuwun panguwoso,
kangge tumindhake satriyo(untuk pria)/wanito (untuk wanita) sejati;
Kulo nyuwun, kangge anyirnakake tumindhak ingkang luput.


Dihafalkan dulu, kata-katanya, sampai hafal betul dan betul pula lafalnya.
Kalau sudah hafal, lakukan sebagai berikut :

1.Duduk sesantai mungkin, sampai seluruh otot terasa lemas, lepas, napas sudah teratur, tidak memikirkan bernafas lagi.
2.Niat untuk menggunakan “Kunci”
3.Kedua mata terpejam rapat.
4.Tunggu sampai kedua lengan dan tangan bergerak sendiri, bersikap menyembah (patrap Kunci)
5.Ucapkan dalam Rasa, kata kata “Kunci”

Selanjutnya, apapun yang dirasakan, termasuk kalau lengan dan tangan bergerak sendiri, ikuti saja. Tidak perlu takut sama sekali. Tidak akan terjadi apapun, yang tidak baik.
Semua itu merupakan tanda, merupakan bukti, bahwa hidup itu benar benar ada dalam diri kita dan bisa kita rasakan sendiri, kita buktikan sendiri keberadaannya.
Latihlah terus, di saat saat senggang. Lama lama kita akan hafal betul, bagaimana rasanya, kalau kita menggunakan “Kunci” Hidup itu.

2. "A S M O"

“Asmo”, diberikan, hanya kepada mereka yang sungguh sungguh sudah membuktikan dayanya Hidup lewat “Kunci” dan sudah yakin benar akan kuasanya Hidup. Kemudian bertekad untuk bisa mengikuti segala kehendak (karsanya )-nya Hidup.
Sekali lagi, anda renungkan dan pertimbangkan masak masak. Sebab, kalau Hidup anda sudah dapat “Asmo”, berarti anda sudah sepenuhnya menjadi Penghayat Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil

3. "M I J I L"

"Mijil" itu bermakna atau dari kata-kata: miji artinya menyatu rasa dengan roso atau zat Illahi di dalam diri seseorang. dan jil artinya rasa tersebut keluar/membuka dengan tujuan sesuai dengan yang diinginkan. Dengan kondisi demikian seseorang dalam keadaan online dengan roso sejatinya atau dengan istilah lain menyatu dengan alam mikrokosmos (jagad kecil), yang kata-kata sebagai berikut :

1.ASMO (sebutkan Asmonya) , JENENG SIRO MIJILO. PANJENENGAN INGSUN KAGUNGAN KARSO, ARSO (MBEKSA BEKSANIRO PRIBADI) (Digunakan untuk sipatnya spiritual / Gulung).

2..ASMO (sebutkan Asmonya) , JENENG SIRO MIJILO. PANJENENGAN INGSUN KAGUNGAN KARSO, RAGANIRO ARSO ...........(sebutkan keiginannya ) (untuk melaksanakan sesuatu / Gelar)


Sikap /"Patrap" Mijil.

Tangan kanan di depan ulu hati, semua jari mengarah keatas, telapak tangan menghadap kekiri. Tangan kiri diletakkan di pinggang sebelah kiri, seperti orang bertolak pinggang.

4. "S I N G K I R"

"Singkir" gunanya untuk menepis "AKU"/"EGO", dengan segala sifatnya, termasuk angkara murka dalam diri kita sendiri. Kata untuk "Singkir" berikut ini "

Gusti ingkang moho suci, kulo nyuwon pangapuro dumateng Gusti Ingkang moho suci;
Sirolah, Dhatolah, Sipatolah;
Kulo sejatine satriyo (untuk pria)/wanito (untuk wanita);
Hananiro-hananingsun;
Wujudiro-wujudingsun;
Siro sirno mati dhening satriyo (untuk pria)/wanito (untuk wanita) sejati;
Ketiban idhuku putih, sirno layu dening (sebutkan "Asmo" anda.


Makin lama kita gunakan "Singkir" ini, makin menipis "AKU"/"EGO" anda.

5. "P A W E L I N G"

"Paweling" adalah sarana untuk menghubungkan Hidup didalam diri anda dengan Yang Maha Hidup.
Kata-kata "Paweling" sebagai berikut :

Siji-siji, loro-loro, telu-telonono;
Siji sekti, loro dadi, telu pandito;
Siji Wahyu, loro gratrahino, telu rejeki.



M A N U S I A

Manusia, seperti kita ketahui, terdiri dari Badan (Raga) dan Hidup (Nyawa, Rokh, Soul).
Raga manusia, dibentuk dari unsur unsur :
1.Tanah
2.Air
3.Hawa
4.Api

Unsur unsur itu, melalui proses bio-kimia, pada Bapak menjadi sperma (sel mani), dan pada Ibu menjadi sel telur. Pertemuan sel mani dan sel telur, membentuk Raga.Kalau penyatuan sel mani dan sel telur itu dimasuki Hidup, barulah akan berkembang menjadi mudigah (embriyo), menjadi bayi, yang akhirnya dilahirkan di dunia.

Manusia itu, Raganya terdiri dari 7 (tujuh) lapis, yaitu :

1.Rambut;
2.Kulit;
3.Daging (bahasa ilmiahnya otot);
4.Otot (bahasa ilmiahnya saraf);
5.Tulang;
6.Sungsum;
7.Darah (semua cairan tubuh)

7 lapis ini, yang dalam Ketuhanan sering disebut dengan berbagai sebutan kiasan.
Hidup, berasal dari Tuhan Yang Maha Esa disebut Rokh Suci, karena berasal dari Maha Suci. Setelah menyatu dengan Raga, disebut Hidup (Urip), karena sudah tidak suci lagi.

Raga, bagaimanapun, sejak pembuahan, sudah tidak suci. Karena kedua orang tua, betapapun kesadarannya akan fungsi meneruskan keturunan, tidak akan berbuat, kalau tidak disertai nafsu. Ini yang menyebabkan Raga, sejak asalnya sudah tidak suci. Ketidak sucian Raga, ikut mengotori Rokh Suci.

Maka, bayi yang baru lahirpun sudah tidak suci.
Bayi yang baru lahir, tahu, kalau lapar menangis, agar diberi makan (susu) oleh ibunya atau orang lain.
Siapa yang mengajari bayi itu?
Bayi itu diajari oleh Guru Sejatinya, yaitu Hidup.
Tak ada seorang ibupun, yang mengatakan pada bayinya, agar kalau lapar, menangis.
Tangis bayi, adalah Bahasa-Hidup. Maka, tidak bisa kita bedakan, tangis bayi Jawa, Sunda, Batak, Amerika, Inggeris, semua sama. Begitu juga Gerak bayi, adalah gerak-hidup, maka semua bayi sama geraknya.
Mulailah otak bayi mendapat masukan. Pintu masukkan, melalui Panca Inderanya. Tergantung masukan yang didapat, maka akan seperti apa nantinya bayi itu jadinya manusia, kanak kanak, sampai dewasa. Masukan bisa dengan sengaja dimasukkan, berupa pendidikan dan pengajaran, bisa juga tanpa disengaja, yaitu apa saja yang ditangkap Panca Inderanya dari lingkungannya.
Masukan itu, termasuk masukan tentang standar norma dan nilai nilai baik-buruk, benar-salah, boleh-dilarang, dan sebagainya. Termasuk norma dan nilai nilai moral dan etika. Bahkan juga soal keyakinan Ketuhanan.
Semua masukan itu, terekam dalam memori/otak manusia itu, yang kemudian jadi dasar manusianya dalam bertindak, dalam mengukur segala sesuatu yang dilakukannya, yang dialaminya, bahkan sebagai standar untuk mengukur perbuatan orang lain.

Karena masukannya berbeda, maka manusia berbeda pula dalam mengukur baik buruk, benar salah dan sebagainya. Hal ini yang selalu menjadikan manusia saling berebut baik, berebut benar. Baik dan benarnya masing masing saling dipegang teguh dan bahkan menyalahkan standar yang dipakai orang lain.
Kalau kita kembali ke bayi, kita akan menyadari, bahwa tangis bayi itu sama, gerak bayi itu sama, karena tangis itu suara Hidup, gerak itu gerak hidup. Jadi sebenarnya manusia itu sama. Berbeda hanya karena masukan yang diterima berbeda.
Hidup itu sama, karena berasal dari Yang Satu, yaitu Tuhan. Yang berbeda raganya, karena berasal dari tanah, air, hawa yang berbeda pula, serta dari Bapak dan Ibu yang berbeda pula.
Jadi, kalau Manusia mau memakai ukuran atau standarnya Hidup, pasti akan sama dalam menilai segala hal.
Raga bersifat materiil, jadi tidak kekal. Satu saat harus hancur dan kembali menjadi tanah, air, hawa dan api.

Hidup, adalah immateriil, bersifat kekal, berasal dari Yang Maha Kekal. Asalnya dari Tuhan, jadi seyogyanya kalau berpisah dengan raganya, langsung kembali ke Tuhan. Tidak mengembara (“nglambrang”) jutaan tahun. Dalam pengertian di sini, otak dengan pekerjaannya (psyche, jiwa) juga tergolong Raga, karena itu masih merupakan kerjanya organ tubuh yang bersifat materiil. Jadi akal pikiran (logika dan ratio), termasuk emosi juga ter-golong raga.

Hidup, kuasanya Gerak, letaknya di Rasa. Maka, kalau makhluk-hidup ditinggalkan Hidupnya berhenti segala geraknya, dan kehilangan Rasa-nya (pada tumbuh-tumbuhan gerak akar dan gerak tumbuhnya yang berhenti). “Urip iku kuwasane obah, lenggahe ono ing Roso Jati”.
Manusia, kemudian juga menerima masukan berupa pendidikan dan pengalaman.
Masukan ini yang mendorong manusia berencana, bercita-cita, dan berusaha meraih apa yang diinginkannya. Keinginan manusia selalu sesuai dengan masukan yang pernah dia terima.

Demikian saya haturkan seklumit tentang Mbah Semono / Romo Semono dengan ajaran dan dhawuhnya.

1 komentar:

  1. Dewi Nawangwulan yg dimaksud di biografi Heru Cokro apakah sama dg Kisah Joko Tarup

    BalasHapus